RSUD Kalim Aah Meninggal Akibat Sepsis
Tasik - RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya mendiagnosa Aah
Komariah (45), warga Cicantel Kelurahan Mulyasari Kecamatan Tamansari Kota
Tasikmalaya terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun hasil analisa medis
penyakit yang Aah meninggal yakni sepsis.
Wadir, Pelayanan RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya dr Hj
Rini Dwidarini mengatakan Aah datang ke RSUD dengan kondisi demam. Hasil diagnosa
dokter RSUD, perempuan tersebut terjangkit DBD. Namun belum tergolong parah dan
penanganan intensif pun dilakukan oleh petugas. “Memang diagnosa awal DBD grade
1 dan masih masa observasi, prosedur penanganan kita lakukan seperti melakukan antibiotik,
injeksi dan lainnya,” ungkap dia.
Selasa sore (5/2) Aah meninggal dunia, namun demikian dari
hasil pemeriksaan laboratorium RSUD. Meninggalnya Aah akibat efek dari penyakit
sepsis, yakni penyakit infeksi berat yang menyerang saluran darah penderitanya.
“Hasil lab (RSUD, red) lebih cenderung karena sepsis,” tuturnya.
Disinggung kemungkinan DBD, Hj Rini mengungkapnya, meskipun
didiagnosa menderita DBD, karena kondisinya tidak begitu parah, justru kondisi
parah dari pasien akibat leukosit yang tinggi. “Waktu datang trombositnya
memang sudah mengalami penurunan, tapi tidak parah,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya dr Cecep Z Kholis
mengaku sudah mendapat laporan terkait warga Tamansari yang meninggal tersebut.
Pihaknya pun mengacu pada hasil diagnosa RSUD. “Jadi bukan karena DBD, tapi
karena sepsis,” tuturnya.
Asumsi masyarakat yang mengarah kepada DBD, kata dia, sangat
wajar mengingat tren nasional saat ini. Bahkan pihaknya akan memiliki
kecurigaan yang sama terhadap gejala-gejala demam. “Tenaga medis pun pasti
mencurigai DBD karena sedang tren, karena itu patut diwaspadai,” katanya.
Selama Januari 2019, RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya
sudah menangani 33 pasien DBD. Sedangkan catatan Dinkes di Kota Tasikmalaya
terdapat 55 pasien penyakit akibat gigitan nyamuk tersebut.
Cecep menerangkan kerawanan DBD lebih tinggi di wilayah
perkotaan. Selain karena lingkungan yang kotor, jenis nyamuknya pun memiliki
karakteristik yang berbeda. Namun demikian wilayah pelosok pun bukan berarti
bisa terbebas dari DBD. “Karena warga Kawalu pun ada yang menderita DBD,”
tuturnya.
Diberitakan sebelumnya, warga Kampung Cicantel Kelurahan
Mulyasari Kecamatan Tamansari Kota Tasikmalaya. Aah Komariah (45) diduga
meninggal akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) sekitar pukul 18.30, Selasa (5/2).
Sebelumnya almarhum terlebih dahulu mengalami perawatan
medis di RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya.
Awalnya, Aah mengeluhkan sakit kepada suaminya Atop Hermawan
(46), Senin (4/2). Kemudian, Aah dibawa berobat ke Puskesmas Tamansari namun
tidak kunjung membaik.
Dari keterangan petugas puskesmas, almarhum disarankan untuk
menunggu dua hari, sambil diberi obat rawat jalan. Pada malam harinya Aah
meninggal dan mengeluh panas dingin.
“Setiba di rumah, malamnya malah panas dingin, kemudian
muntah-muntah, saya kembali ke puskesmas lagi dan disarankan langsung ke rumah
sakit untuk ditangani,” ujar Atop menceritakan kepada wartawan di sela proses
pemakaman istrinya.
Akhirnya, kata dia, sekitar pukul 06.00 Selasa (5/2), dia
membawa istrinya tersebut ke RSUD dr Soekardjo. Aah, langsung ditangani dan
menunggu cukup lama hasil pemeriksaan dari laboratorium untuk diteliti penyakit
yang diderita. “Ternyata dari hasil laboratorium, istri saya DBD. Kemudian tadi
sekitar pukul 18.30 meninggal di ruang perawatan,” tuturnya seraya berpasrah.
Dia berharap di kampungnya bisa digalakkan kembali program
pemberantasan nyamuk DBD. Sebab, tidak ingin warga lain mengalami nasib yang
sama. “Harus ada penanganan dari Pemkot, supaya tidak terjadi kembali korban,”
ucapnya.
Ketua RT/RW 05/08 Kampung Cicantel, Dulah mengaku kaget ada
warganya yang meninggal akibat virus dari nyamuk dengue. Apalagi, selama ini
sudah jarang adanya kegiatan fogging di lingkungannya. “Kita ingin ada
penanganan, supaya warga lain tidak menyusul menjadi korban. Tadi kita juga
kaget dengarnya karena DBD,” ujarnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi Kepala Bidang
Pelayanan RSUD dr Soekardjo Budi Tirmadi sampai dengan pukul 21.40 belum
memberikan keterangan. (igi)
Source:
Radar Tasikmalaya, Kamis 7 Februari 2019 (2 Jumadil
Akhir 1440 H) hal 1 dan 7